Ini Penyebab Harga Sawit Belum Mengalami Kenaikan

  • Whatsapp
Ini Penyebab Harga Sawit Belum Mengalami Kenaikan
Antrian Truk Memuat TBS. Foto (Ist)

KORDINAT.Co, Bontang – Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di Dunia. Namun, ekspor Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit mentah dan (Crude Palm Kernel Oil) minyak inti sawit mentah belum mengalami kenaikan pasca pelarangan ekspor oleh Presiden Jokowi pada April lalu.

Sehingga Harga tandan buah segar (TBS) hingga kini dibeberapa wilayah belum mengalami kenaikan. Berdasarkan laporan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) ekspor minyak sawit datanya menunjukkan penurunan.

Dikutip dari CNBC Indonesia, Pada April lalu, stok awal tercatat 5,683 juta ton dengan produksi (CPO dan CPKO) mencapai 4,255 juta ton. Sedangkan jumlah ekspor saat itu 5 juta ton, dan stok akhir bulan menjadi 6,103 juta ton. Sementara konsumsi lokal hanya tercatat 1,752 juta ton.

Jumlah stok itu melonjak dari Maret 2022 dan April 2021 yang masing-masing sebesar 5,683 juta ton dan 3,269 juta ton. Angka stok kala itu menjadi yang tertinggi sejak 6 tahun terakhir.

“Kalau melihat data stok akhir tahun lalu, stok kita tidak pernah menyentuh 5 juta ton. Jadi kalau saat ini stok udah 6 juta ton, ini sudah gawat darurat. Ini adalah rekor dan maksimum. Makanya PKS (pabrik kelapa sawit) banyak yang sudah tutup, tidak bisa lagi produksi CPO karena tidak tertampung. Akibatnya TBS petani tidak tertampung lagi dan harga TBS petani anjlok dan banyak tidak memanen buah lagi,” kata Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Institute (PASPI) Tungkot Sipayung.

Sementara, Sekjen Gapki Eddy Martono menyatakan ekspor belum berjalan normal. Sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan melarang ekspor minyak goreng dan bahan bakunya (CPO dan turunannya) mulai 28 April hingga 22 Mei 2022.

Kebijakan itu diprotes, sebab dapat memicu penumpukan tangki-tangki CPO di PKS. Selain itu juga bisa membuat penyerapan industri pengolahan atau refinery melambat.

Kemudian pada bulan ini hingga 31 Juli mendatang, pemerintah meluncurkan program percepatan ekspor atau ‘flush out’.

“Ekspor CPO sudah mulai jalan walaupun belum normal, diperkirakan baru bulan Juli akan normal. Stok 6,1 juta ton memang cukup tinggi. Saya tidak berani bilang rekor sebab mesti cek data-data yang lalu. Tapi kalau dikatakan tinggi, iya, sebab rata-rata stok kita 4 jutaan ton,” ujar Eddy.

Berdasarkan data GAPKI dari tahun 2016, berikut pergerakan stok minyak sawit nasional setiap tahunnya hingga April 2022:
– Tahun 2016 produksi: 35,57 juta ton ekspor: 26,57 juta ton stok: 3,75 juta ton
– Tahun 2017 produksi: 41,98 juta ton ekspor: 32,18 juta ton stok: 4,02 juta ton
– Tahun 2018 produksi: 47,38 juta ton ekspor: 34,71 juta ton stok: 3,26 juta ton
– Tahun 2019 produksi: 51,82 juta ton ekspor: 36,17 juta ton stok: 4,59 juta ton
– Tahun 2020 produksi: 51,57 juta ton ekspor: 34,00 juta ton stok: 4,86 juta ton
– Tahun 2021 produksi: 51,3 juta ton ekspor: 34,23 juta ton stok: 3,57 juta ton
– Tahun 2022 (per April 2022) produksi: 16,46 juta ton ekspor: 8,38 juta ton stok: 6,10 juta ton. (Redaksi).

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *